Latar Belakang
Banyak organisasi hari ini merasa telah memberikan cukup kepada karyawannya—gaji, fasilitas, bahkan program engagement. Namun, di sisi lain, semakin banyak karyawan yang hadir secara fisik tetapi menarik diri secara psikologis. Mereka bekerja sekadar memenuhi kewajiban, tanpa keterikatan emosional. Fenomena ini dikenal sebagai silent quitting, dan sering kali muncul tanpa konflik terbuka, tanpa peringatan keras, hanya penurunan komitmen yang perlahan namun pasti.
Ketika Anda memperhatikan lebih dalam, silent quitting jarang terjadi secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari psychological contract yang tidak lagi dirasakan adil, jelas, atau bermakna. Psychological contract bukanlah perjanjian tertulis, melainkan keyakinan bawah sadar karyawan tentang “apa yang saya berikan” dan “apa yang seharusnya saya terima”. Saat kontrak ini dilanggar—bahkan tanpa niat—engagement mulai melemah.
Yang menarik, banyak pimpinan tidak menyadari bahwa setiap keputusan, setiap komunikasi, dan setiap perlakuan sehari-hari sebenarnya sedang “berbicara” pada psychological contract karyawan. Dan ketika pesan-pesan itu tidak selaras, karyawan tidak selalu protes—mereka menyesuaikan ekspektasi dan menurunkan keterlibatan. Diam. Aman. Tapi berbahaya bagi organisasi.
Pelatihan Psychological Contract & Employee Engagement di Era Silent Quitting membantu organisasi memahami dinamika psikologis yang tidak terlihat ini. Ketika pimpinan mulai menyadari kontrak tak tertulis yang sedang berjalan, dan belajar mengelolanya secara sadar, engagement dapat dibangun kembali. Bukan dengan janji besar, tetapi dengan konsistensi, kejelasan, dan makna yang dirasakan. Dan pada saat itu, karyawan mulai terlibat bukan karena harus, tetapi karena ingin.
Tujuan Pelatihan
Tujuan Umum:
Meningkatkan employee engagement melalui pengelolaan psychological contract yang sadar dan berkelanjutan.
Tujuan Khusus:
Peserta mampu:
- Memahami konsep psychological contract dan dampaknya.
- Mengidentifikasi pelanggaran kontrak psikologis yang tersembunyi.
- Membaca tanda-tanda awal silent quitting.
- Mengelola ekspektasi dan makna kerja secara strategis.
- Membangun engagement berbasis kepercayaan dan keadilan.
- Menguatkan komitmen karyawan tanpa paksaan.